Institutional Authority Reconstruction for Effective Anti-Corruption Enforcement: An Islamic Legal Perspective toward Achieving SDG 16
DOI:
https://doi.org/10.23917/profetika.v26i03.14362Keywords:
Corruption, law enforcement, Reconstruction Of AuthorityAbstract
The enforcement of corruption crimes in Indonesia faces issues of overlapping authority among Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Kejaksaan Agung Republik Indonesia, and Kepolisian Republik Indonesia, which negatively affects the effectiveness of investigation, inquiry, and prosecution processes. This study employs a normative juridical method through a literature-based review of legislation and legal references to analyze the disharmony of authority and its implications for law enforcement practices. The discussion shows that overlapping authority among law enforcement institutions triggers conflicts, delays case handling, and creates opportunities for political intervention and legal uncertainty, particularly after the enactment of Law No. 19 of 2019, which altered the independence of the KPK. This study concludes that a reconstruction of authority is necessary through the revision of the Anti-Corruption Law and the strengthening of coordination, supervision, and integrated division of authority to ensure more effective, synergistic, and legally certain handling of corruption cases.
References
[1] Farid Nur Mustaqim, et all, “Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Indonesia dari Perspektif Teori Lawrence”, Jurnal Ilmiah Nusantara, Vol 2 No. 2, 2025, DOI : https://doi.org/10.61722/jinu.v2i2.3595
[2] UU Nomor 7 Tahun 2006 entang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003.
[3] Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia (Normatif, Teoritis, Praktik dan Masalahnya), Bandung:PT. Alumni, 2007.
[4] Matrial Barahama, Adensi T, dan Arthur N.V, “Analisis Yuridis Kewenangan Penyidikan Antar Lembaga Penegak Hukum dalam Tindak Pidana Korupsi”, Jurnal At-Tanwir Law Review, Vol 5 No. 1, 2025, DOI: http://dx.doi.org/10.31314/atlarev.v5i1.4315
[5] Sujono, Pemulihan Aset Korupsi Melalui Pembayaran Uang Pengganti dan Gugatan Perdata Negara, Yogyakarta: Genta Publishing, 2020.
[6] Cindy Maulana, “Efektivitas Penegakan Hukum Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia”, Jurnal PAKEHUM, Vol 2 No. 2, 2025, DOI: https://doi.org/10.70134/pakehum.v2i2.570
[7] Yusuf DM, et all, “Persinggungan Kewenangan Polri dan KPK dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi: Analisis Yuridis”, Jurnal Ilmiah Advokasi, Vol 13 No. 2, 2025. DOI: https://doi.org/10.36987/jiad.v13i2.6374
[8] Syaifuddin A, “Analisis Efektivitas Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, Jurnal Hukum Pidana, Vol 2 No. 1, 2021.
[9] Mohd. Yusuf dkk , “Persinggungan Kewenangan Polri Dan Kpk Dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi: Analisis Yuridis”, Jurnal Ilmiah Advokasi, Vol. 13 No. 2, 2025, DOI: https://doi.org/10.36987/jiad.v13i2.6374
[10] I Made Dicky, “Analisis Efektivitas Penegakan Hukum terhadap Korupsi di Indonesia”, jurnal penelitian Ilmiah Multidisipliner Vol. 2 No. 3, 2025
[11] Naila Zakiyatun Fakhiroh dan Nina Desylia, “Peran dan Kewenangan Kejaksaan Agung dalam Penegakan Hukum Kasus Korupsi”, jurnal hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah, Vol. 2 No. 2, 2025, DOI: https://doi.org/10.61132/hidayah.v2i2.1000
[12] M Syamsudin, Operasional Penelitian Hukum, Jakarta: Rajawali Press, 2007.
[13] M.Syamsudin,Mahir Meneliti Permasalahan Hukum, Jakarta:Kencana,2021.
[14] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, Bandung:Alfabeta, 2022.
[15] Fery Andriyansyh dan Anom Wahyu Asmorojati, “Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Dinamika Politik Hukum Ketatanegaraan Pasca Undang-Undang No. 19 Tahun 2019”, Lex Renaissance, Vol 10 No. 1, 2025. DOI : https://doi.org/10.20885/JLR.vol10.iss1.art10
[16] Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
[17] Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana atau KUHAP
[18] Eny Noviyanti dan Niru Anita Sinaga, “Kewenangan Penyelidikan, Penyidikan dan Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi”, Jurnal Transparansi Hukum, Vol. 7 No. 1, 2024. DOI: https://doi.org/10.30737/transparansi.v7i1.5436
[19] Andi Hamzah, Hukum Acata Pidana Indonesia, Jakarta:Sinar Grafika, 2022.
[20] Joko Sri Widodo, Perkembangan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, Yogyakarta:Kepel Press.
[21] Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta:Cahaya Atma Pustaka, 2010.
[22] Zainal Arifin Mochtar, Lembaga Negara Independen:Dinamika Perkembangan dan Urgensi Penataannya Kembali Pasca-Amandemen Konstitusi, Jakarta:Rajawali Press, 2017.
[23] Undang-Undang No. 19 tahun 2019 tentang Perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
[24] Rainaldy Valentino Kaligis, “Implikasi Hukum Atas Revisi Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang KPK terhadap Penyelesaian Kasus Tindak Pidana Korupsi”, Lex Crimen, Vol 1 No. 1, 2020.
[25] Lawrence M. Friedman, 2013, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial, Bandung : Nusa Media.
[26] Haron, H. (2020). Islamic Governance and Financial Crime Prevention. Kuala Lumpur: IIUM Press.
[27] Al-Zuhaili, Wahbah. (2011). Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh. Damaskus: Dār al-Fikr.
[28] Abdullah, M. (2022). "Ta‘zīr dan Relevansinya dalam Penegakan Tindak Pidana Korupsi". Jurnal Hukum Islam, 14(1))
[29] Azhari, A. (2021). Fikih Siyasah dan Tata Kelola Negara. Yogyakarta: UII Press.
Submitted
Accepted
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Fadly Hasibuan, Febrian, Iza Rumesten RS, Saifudin Amin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.












