The Relationship Between Workload, Work Duration, and Water Consumption with Heat Strain Among Workers in the Purwogondo Tofu Industry, Kartasura
DOI:
https://doi.org/10.23917/jk.v19i1.10048Keywords:
Heat strain, workload, work duration, hydration, tofu industryAbstract
Pendahuluan: Penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) seringkali diabaikan di sektor informal, khususnya di pabrik tahu, yang menyebabkan peningkatan risiko kesehatan bagi pekerja. Mengingat sifat produksi tahu tradisional yang melibatkan paparan panas tinggi dan potensi jam kerja yang panjang, analisis faktor-faktor yang memengaruhi paparan panas sangat dibutuhkan untuk melindungi kesehatan pekerja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja, durasi kerja, dan konsumsi air terhadap kejadian stres panas di kalangan pekerja di pusat industri tahu Purwogondo di Kartasura. Metode: Studi ini menggunakan desain potong lintang yang melibatkan 80 partisipan yang dipilih secara purposif, melebihi ukuran sampel minimum 63 (rumus Lemeshow, 95% CI, 10% kesalahan) untuk meningkatkan akurasi hasil. Data tentang beban kerja (diukur melalui denyut nadi), durasi kerja, dan asupan air (keduanya dinilai melalui kuesioner) dikumpulkan bersamaan dengan tingkat stres panas, yang dievaluasi menggunakan Indeks Skor Stres Panas (HSSI). Uji chi-square kemudian digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Uji chi-square mengungkapkan hubungan yang signifikan (p<0,05) antara ketiga variabel dan tekanan panas, dengan Cramer's V menunjukkan durasi kerja sebagai prediktor terkuat (0,626), diikuti oleh konsumsi air (0,480) dan beban kerja (0,359). Hasil menunjukkan 60% pekerja berisiko (Zona Kuning) dan 27,5% mengalami tekanan panas (Zona Merah), terutama mereka yang memiliki beban kerja sedang (52,2%), shift kerja panjang (31,9%), dan hidrasi yang tidak memadai (41,2%). Kesimpulan: Hasil ini menekankan pentingnya pengelolaan beban kerja, pengaturan shift, dan penerapan program hidrasi di industri makanan skala kecil yang terpapar panas.
Introduction: The implementation of Occupational Safety and Health (OSH) standards is often neglected in the informal sector, particularly in tofu factories, leading to increased health risks for workers. This study aims to analyze the relationship between workload, work duration, and water consumption on the incidence of heat strain among workers at the Purwogondo tofu industry center in Kartasura. Method: This study employed a cross-sectional design involving 80 participants selected using purposive sampling. Data on workload (measured via pulse rate), work duration, and water intake (both assessed through questionnaires) were collected alongside heat strain levels, which were evaluated using the Heat Strain Score Index (HSSI). Chi-square tests were subsequently utilized to analyze the relationships between the independent and dependent variables. Results: Chi-square tests revealed significant associations (p<0.05) between all three variables and heat strain, with Cramer's V indicating work duration as the strongest predictor (0.626), followed by water consumption (0.480) and workload (0.359). Results showed 60% of workers were at risk (Yellow Zone) and 27.5% experienced heat strain (Red Zone), particularly those with moderate workloads (52.2%), extended shifts (31.9%), and inadequate hydration (41.2%). Conclusion: The results emphasize the critical necessity for managing workloads, regulating shifts, and implementing hydration programs in small-scale food industries that are exposed to heat.
Downloads
Downloads
Submitted
Accepted
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Athhar Syahputra, Sri Darnoto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







